UN (Ujian Nasional), tentu kita sudah tidak asing lagi
dengan kata tersebut. Bahwasanya Ujian Nasional adalah sistem evaluasi standar
pendidikan secara nasional yang guna bertujuan untuk mengetahui tingkat
kemampuan siswa, mutu tingkat pendidikan siswa dan lebih lebih bertujuan untuk
menjadi ajang pembuktian ataupun tolak ukur bagi seorang siswa.
Selanjutnya mengenai tulisan yang di unggah Setia Naka
Andrian, saya sebagai seorang mahasiswa dan juga salah satu dari sekian banyak
orang yang pernah merasakan betapa mengerikannya UN (Ujian Nasional), katanya.
Saya sangat tidak setuju apabila UN (Ujian Nasional) dihapuskan atau
ditiadakan, karena apa? Bahwa pada dasarnya UN memiliki peran atau manfaat
penting dalam mengukur kemampuan peserta didik, dimana dapat juga digunakan
sebagai bahan evaluasi dan pembinaan oleh pemerintah pusat. Saya lebih setuju
apabila UN digunakan untuk menjadi indikator kelulusan seorang siswa, tidak
dijadikan sebagai penentu utama dari kelulusan. Karena apabila kita hanya
memikirkan tingkat kelulusan yang tinggi itu berarti secara tidak langsung kita
hanya melihat atau mengandalkan hasil akhir tidak mementingkan prosesnya.
Seharusnya kita tidak hanya berpacu pada suatu hasil akhir, karena proses yang
kita butuhkan untuk menuju suatu hasil akhir sangatlah lebih penting.
Namun kenyataan berkata lain, bahwasanya manusia Indonesia
rata-rata lebih mengutamakan hasil akhir ketimbang proses. Alangkah mirisnya
pendidikan negara indonesia ini.
Selanjutnya saya juga kurang setuju apabila hanya mapel UN
(Ujian Nasional) dijadikan momok utama penentu kelulusan. Penyelenggaraan UN
yang dilakukan pemerintah terkadang membuat guru terlena. Guru hanya fokus pada
mata pelajaran yang akan diujikan dalam UN seperti mata pelajaran Matematika,
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa Indonesia, dan beberapa materi lain yang
akan diujikan dalam Ujian Nasional (UN). Sedangkan materi-materi lain menjadi
terabaikan bahkan dianggap tidak penting lagi. Namun yang menjadi permasalahan
disini adalah seorang siswa. Mengapa saya menyebut seorang siswa? Karena
seorang siswa apabila hendak menjalani ujian Nasional bukannya fokus belajar
namun mereka malah disibukkan dengan cara-cara yang melanggar yaitu dengan
sibuk mencari kunci jawaban kesana kesini. Mereka tidak percaya dengan
kemampuan individu masing-masing, yang di pikirkan lagi-lagi hanyalah hasil
akhir dan hasil akhir. Disini peran menteri pendidikan sangatlah dibutuhkan
untuk mencegah bocornya kunci jawaban yang entah dari mana itu asalnya. Para
menteri harus lebih jeli dan lebih teliti lagi, bukan karena tanpa alasan,
tetapi agar tingkat pendidikan negara indonesia bisa bersaing dengan
negara-negara tetangga yang saat ini banyak yang sudah maju pesat.
Fikri Dian Prasetya (3F/PBSI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar