Sabtu, 24 Desember 2016

Komentar mengenai menimbang (ketiadaan) UN



UN (Ujian Nasional), tentu kita sudah tidak asing lagi dengan kata tersebut. Bahwasanya Ujian Nasional adalah sistem evaluasi standar pendidikan secara nasional yang guna bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, mutu tingkat pendidikan siswa dan lebih lebih bertujuan untuk menjadi ajang pembuktian ataupun tolak ukur bagi seorang siswa.
Selanjutnya mengenai tulisan yang di unggah Setia Naka Andrian, saya sebagai seorang mahasiswa dan juga salah satu dari sekian banyak orang yang pernah merasakan betapa mengerikannya UN (Ujian Nasional), katanya. Saya sangat tidak setuju apabila UN (Ujian Nasional) dihapuskan atau ditiadakan, karena apa? Bahwa pada dasarnya UN memiliki peran atau manfaat penting dalam mengukur kemampuan peserta didik, dimana dapat juga digunakan sebagai bahan evaluasi dan pembinaan oleh pemerintah pusat. Saya lebih setuju apabila UN digunakan untuk menjadi indikator kelulusan seorang siswa, tidak dijadikan sebagai penentu utama dari kelulusan. Karena apabila kita hanya memikirkan tingkat kelulusan yang tinggi itu berarti secara tidak langsung kita hanya melihat atau mengandalkan hasil akhir tidak mementingkan prosesnya. Seharusnya kita tidak hanya berpacu pada suatu hasil akhir, karena proses yang kita butuhkan untuk menuju suatu hasil akhir sangatlah lebih penting.
Namun kenyataan berkata lain, bahwasanya manusia Indonesia rata-rata lebih mengutamakan hasil akhir ketimbang proses. Alangkah mirisnya pendidikan negara indonesia ini.
Selanjutnya saya juga kurang setuju apabila hanya mapel UN (Ujian Nasional) dijadikan momok utama penentu kelulusan. Penyelenggaraan UN yang dilakukan pemerintah terkadang membuat guru terlena. Guru hanya fokus pada mata pelajaran yang akan diujikan dalam UN seperti mata pelajaran Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa Indonesia, dan beberapa materi lain yang akan diujikan dalam Ujian Nasional (UN). Sedangkan materi-materi lain menjadi terabaikan bahkan dianggap tidak penting lagi. Namun yang menjadi permasalahan disini adalah seorang siswa. Mengapa saya menyebut seorang siswa? Karena seorang siswa apabila hendak menjalani ujian Nasional bukannya fokus belajar namun mereka malah disibukkan dengan cara-cara yang melanggar yaitu dengan sibuk mencari kunci jawaban kesana kesini. Mereka tidak percaya dengan kemampuan individu masing-masing, yang di pikirkan lagi-lagi hanyalah hasil akhir dan hasil akhir. Disini peran menteri pendidikan sangatlah dibutuhkan untuk mencegah bocornya kunci jawaban yang entah dari mana itu asalnya. Para menteri harus lebih jeli dan lebih teliti lagi, bukan karena tanpa alasan, tetapi agar tingkat pendidikan negara indonesia bisa bersaing dengan negara-negara tetangga yang saat ini banyak yang sudah maju pesat.

Fikri Dian Prasetya (3F/PBSI)

Tugas Bulan Bahasa



PERSIAPAN MENUJU BULAN BAHASA
Oleh Fikri Dian Prasetya

Acara UPGRIS BERSASTRA yang diadakan oleh Universitas PGRI Semarang pada hari Selasa 19 Oktober 2016 di Balairung dengan tema “ 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, dan 1 pengarang” merupakanacara yang diadakanuntukmemperingatiharibulanbahasa, selainituacarainijuga di gunakanuntukmenumbuhkan rasa peduli kita terhadap sastra yang akhir-akhir ini mulai berkurang.
Band akustik Biscuittime salah satu jebolan dari UPGRIS ini juga mengisi acara sembari menunggu para tamu undangan hadir. Band yang digawangi Deska, Yongki, Icha juga turut mengapresiasi puisi karya Triyanto Triwikromo yaitu salah satu lirik puisinya dijadikan sebuah judul lagu untuk mini albumnya. Penuh sesak para mahasiswa Upgris yang berdatangan entah karena untuk mencari hiburan semata, karena dapat tugas dari dosennya ataupun memang keinginan dari hati sendiri untuk ikut serta berpatisipasi meringati hari bulan bahasa. Selain itu tidak hanya para mahasiswa, melainkan para dosen pun tidak mau ketinggalan akan acara tersebut.
Acara kali inidibukaolehRektordenganlagu yang diciptakansendiriolehBapakMuhdi, adabeberapafaktatentangRektor UPGRIS ini yang tidakbanyak orang mengetahuinya,ketikabeliaumasihmudabeliaumerupakanpenggerakaktifseni yang adadalammasyarakat. Beliau jugapernahmenjadisutradaradalampementasansebuah drama teater. BapakMuhdijugatidakmaukalahdalamhalmembacakanpuisi. Beliaumenjadi 1 dari 3 yang membacapuisikaryaTriyantoTriwikromo.
Setelah itu Dekan FPBS Ibu Dra. Asropah, M.Pd ikuet aerta membacakan sebuah puisi yang di dampingi dua mahasiswa yang menari-nari di sudut panggung. Wakil Rektor 1 Ibu Sri Suciati, M.Hum juga tidak mau kalah, beliau juga ikut berperan namun kali ini berbeda. Bu SucididampingisalahseorangmahasiswaPendidikanBahasaInggrismenembangkanlanggamJawa. TembangJawa yang terlantunolehkeduawanitacantikitumembuattakjup para mahasiswa yang berada didalam balairung dan jugapenulisTriyantoTriwikromo. Tepuk tangan keras pun tidak luput di apresiasikan para mahasiswa dan juga teriakan histeris.
Selain itu dalamacara tersebut juga menjelaskan salah satu karya beliau yaitu Anak-Anak Mengasah Pisau yang mendapat respon positif dari para seniman, dan dijadikan sebagai lukisan oleh pelukis Yuswantoro Adi. Dijadikan karya tritama oleh AS kurnia dijadikan sebuah lagu oleh pemusik Seno, Sosiawan LEAK menjadikannya sebuah teater sedangkan oleh Dedi Setiadi karya itu dijadikan sebuah sinetron yang skenarionya di tulis oleh pemilik karya.
Sementara itu tiga tokoh yang tidak kalah penting duduk berdampingan diatas panggung untuk membedah buku karya Triyanto Triwikromo yaitu Dosen pascasarjana Upgris Nur Hidayat, cerpenis S Prasetyo Utomo, dan Staf HumasPGRI semarang Widyanuri eko Putra ditambah satu lagi sebagai moderator Kritikus sastra Bapak Drs. Harjito, M.Hum. yang menjabat sebagai ketua program studi pascasarjana Upgris. Awal bedah dimulai dari tuturan bapak Nur Hidayat yang senantiasa mengikuti karya-karya Triyanto ini karena pemilihan kata atau diksi yang tidak biasa.
Kemudian Pak Pras yang dulu sebagai kaka tingkat ketika menuntut ilmu di Universitas Negeri Semarang menyusul dengan bercerita tentang masa lalu Triyanto yang dulu terinspirasi kepada dirinya karena tulisan beliau ini sudah masuk dalam media masa. Saat itu juga Triyanto ini selalu meminta Pak Pras untuk mengoreksi karyanya sebelum dikirim untuk di publikasikan.

Giliran yang paling muda diantara ke empat orang yang berada diatas panggung yaitu Widyanuri Eko Putra. Beliau  tidak hanya mengkritisi atau membedah buku milik Triyanto melainkan beliau juga memberikan koleksi bukunya kepada mahasiswa yang bisa menjawab pertanyaan. Sedikit pembicaraan beliau tentang buku-buku Pak Tri yang berasal dari serapan sastra terjemahaan empat buku asing. Itu artinya sebuah buku yang berkualitas tidakhanya pemikiran saja namun ada buku lain yang dijadikan sebagai acuan.
Terselenggaranyaacarainibukan hayaberpusatpadapengarangdankritikussajaadaperanmahasiswadanpelatihtarikreasi yang ikutmenyuguhkankaryagarapannya. Enam orang mahasiswamenjadisalahsatukolaborasinanselarasdengangerakandanisipuisi Pak Tri.
FakultasPendidikanBahasadanSeni dalammenyambutbulanbahasasudahtidakperludiragukanlagi. Apalagisudah mendapat dukungandaripihakrektorat yangmenambahsemangatuntukmenyelenggarakanacaraini. Bukan kali ini saja tahun-tahun yang lalu FPBS juga sudah menunjukan eksistensinya dalam memperingati bulan bahasa. Ini baru salah satu acara yang diselenggrakan dan nantinya akan ada lagi yang lebih meriah ketika puncak bulan bahasa pada tanggal 28 November 2016.
Universistas PGRI Semarang tidak pernah absen dalam menyambut peringatan bulan bahasa, berbagai kegiatan dilakukan karena menyambut bulan bahasa merupakan hal wajib bagi universitas, Seharusnya tidak hanya ketika menyambut bulan bahasa saja mengadakan seperti ini bulan-bulan biasa juga sebaiknya  mempunyai acara  sendiri namun dengan tidak lepas akan bahasa sastara maupun budaya.
Teruslah menjadi Universitas yang membanggakan, menjadi contok yang baik untuk Universitas yang lain. Dicontoh itu lebih baik daripada mencontoh. Jaya terus Universitas PGRI semarang. Jangan bosan-bosan untuk menyuguhkan acara-acara yang bermanfaat yang nantinya dapat berguna bagi nusa dan bangsa.


(Fikri Dian Prasetya, Pejantan Rembang)